Mengelola keuangan keluarga bukan hanya soal mencatat pemasukan dan pengeluaran. Lebih dari itu, setiap keluarga perlu memiliki rencana yang jelas agar berbagai kebutuhan saat ini maupun impian di masa depan dapat diwujudkan.
Sayangnya, masih banyak keluarga yang menjalani kehidupan finansial tanpa perencanaan. Penghasilan habis setiap bulan, tabungan belum terbentuk, bahkan utang terus bertambah. Kondisi ini dapat dihindari apabila perencanaan keuangan dilakukan sejak dini.
Perencanaan keuangan merupakan proses mengelola penghasilan, harta, dan pengeluaran secara terarah untuk mencapai tujuan keuangan keluarga secara efektif dan efisien. Tujuan tersebut dapat berupa memenuhi kebutuhan sehari-hari, mempersiapkan dana pendidikan anak, membeli rumah, menunaikan ibadah haji, hingga menyiapkan dana pensiun.
Dengan perencanaan yang baik, keluarga tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga lebih siap menghadapi kebutuhan di masa depan yang nilainya cenderung semakin besar.
Pada artikel ini, pembahasan difokuskan pada dua langkah awal, yaitu mengenali kondisi keuangan dan menyusun tujuan keuangan keluarga.
Kenali Kondisi Keuangan Keluarga
Langkah pertama adalah mengetahui kondisi keuangan yang sebenarnya. Jangan membuat rencana sebelum mengetahui apa saja yang dimiliki dan apa saja yang masih menjadi kewajiban.
Apa yang Dimaksud dengan Harta?
Harta adalah seluruh aset atau benda berharga yang dimiliki keluarga dan memiliki nilai ekonomi. Tidak hanya berupa uang tunai, tetapi juga berbagai aset lain yang dapat dijual atau diuangkan apabila diperlukan. Contohnya antara lain:
- Uang tunai;
- Tabungan;
- Rumah;
- Tanah;
- Kendaraan;
- Kebun;
- Perhiasan;
- Aset usaha.
Dalam pencatatan, cukup masukkan aset yang memiliki nilai jual cukup besar sehingga benar-benar menggambarkan kekayaan keluarga.
Apa yang Dimaksud dengan Utang?
Utang adalah seluruh kewajiban yang masih harus dibayar, baik kepada individu maupun lembaga keuangan. Contohnya meliputi:
- Utang kepada saudara;
- Kas bon;
- Sisa kredit rumah;
- Sisa kredit kendaraan;
- Pinjaman usaha;
- Cicilan barang elektronik.
Semua utang perlu dicatat sesuai jumlah kewajiban yang masih tersisa.
Setelah seluruh harta dan utang dicatat, hitunglah kekayaan bersih menggunakan rumus ini.
Kekayaan Bersih = Total Harta − Total Utang
Interpretasi hasilnya sederhana.
Jika total harta lebih besar daripada total utang, berarti kondisi keuangan masih tergolong baik.
Jika total utang lebih besar daripada total harta, itu artinya kondisi keuangan perlu segera diperbaiki karena total kekayaan minus.
Perlu diingat bahwa memiliki rumah atau kendaraan belum tentu menunjukkan seseorang kaya apabila sebagian besar aset tersebut masih dibiayai oleh utang.
Tentukan Seluruh Keinginan dan Impian
Setelah mengetahui kondisi keuangan berdasarkan kondisi saat ini, langkah berikutnya adalah menuliskan semua tujuan keuangan yang ingin dicapai.
Tuliskan seluruh impian keluarga, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Contohnya:
- Membeli rumah;
- Biaya pendidikan anak;
- Modal usaha;
- Dana ibadah haji atau umrah;
- Membeli kendaraan;
- Dana pensiun;
- Renovasi rumah.
Untuk setiap tujuan, tentukan pula berapa dana yang dibutuhkan serta kapan target tersebut ingin dicapai. Cara ini membantu keluarga mengetahui berapa besar dana yang harus dipersiapkan mulai sekarang.
Contoh Tabel Perencanaan Impian
| No | Impian | Estimasi Dana | Target Waktu |
| 1 | Dana pendidikan anak | Rp40.000.000 | 5 tahun lagi |
| 2 | Membeli rumah | Rp300.000.000 | 8 tahun lagi |
| 3 | Dana haji | Rp120.000.000 | 10 tahun lagi |
| 4 | Modal usaha | Rp25.000.000 | 2 tahun lagi |
| 5 | Dana darurat | Rp20.000.000 | 1 tahun lagi |
Tentukan Prioritas Kebutuhan
Pada dasarnya keinginan manusia tidak memiliki batas. Setiap kali satu impian tercapai, biasanya akan muncul keinginan baru.
Namun, kemampuan keuangan setiap keluarga memiliki keterbatasan. Karena itu, tidak semua keinginan dapat diwujudkan secara bersamaan. Solusinya adalah membuat skala prioritas.
Dalam menentukan prioritas, dahulukan kebutuhan yang benar-benar penting dibandingkan keinginan yang masih dapat ditunda.
Misalnya, apabila sebuah keluarga memiliki tiga tujuan berikut:
- Membeli motor baru;
- Menyiapkan dana pendidikan anak;
- Membeli pakaian baru.
Maka urutan prioritas yang lebih bijak adalah:
- Dana pendidikan anak.
- Membeli motor baru.
- Membeli pakaian baru.
Semakin tinggi prioritas suatu tujuan, semakin awal pula target pencapaiannya.
Penutup
Merencanakan keuangan keluarga tidak harus rumit. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memahami kondisi keuangan saat ini dengan mencatat seluruh harta dan utang. Setelah itu, tuliskan seluruh impian keluarga, tentukan besarnya dana yang dibutuhkan, lalu susun berdasarkan skala prioritas.
Dengan perencanaan yang jelas, setiap keputusan keuangan akan menjadi lebih terarah. Keluarga pun memiliki peluang lebih besar untuk mewujudkan berbagai tujuan penting, mulai dari pendidikan anak, kepemilikan rumah, hingga persiapan masa pensiun.
Bagi anggota KSPPS NURI JATIM, perencanaan keuangan yang baik juga dapat didukung melalui berbagai produk simpanan syariah yang membantu mempersiapkan kebutuhan masa depan secara lebih aman, terencana, dan sesuai prinsip syariah.
